Descending triangle terbentuk ketika harga berulang kali memantul dari support yang hampir sama, tetapi setiap pantulan berhenti di level yang lebih rendah. Hasilnya segitiga dengan sisi bawah datar dan sisi atas menurun. Pola ini paling sering dibaca sebagai kelanjutan tren turun, meski bisa juga muncul di puncak. Konfirmasinya adalah penutupan di bawah support. Tinggi segitiga di bagian terlebar sering diproyeksikan ke bawah dari titik breakdown sebagai target kasar.
Pola Descending Triangle
Descending triangle atau segitiga turun dibentuk oleh support yang datar dan garis resistance yang menurun; pola ini cenderung bearish dan terkonfirmasi saat harga ditutup di bawah support.
Ringkasan
Struktur dan cara mengenali
Support datar: setidaknya dua low di level yang kurang lebih sama.
Resistance menurun: setidaknya dua high yang makin rendah, dihubungkan dengan garis tren turun.
Penyempitan: rentang harga mengecil menuju ujung segitiga dan volume biasanya menyusut.
Breakdown: penutupan di bawah support. Volume tidak selalu harus melonjak saat breakdown, tetapi kenaikan volume menambah keyakinan.
Psikologi pasar
Support datar menunjukkan ada pembeli yang konsisten menampung di harga tertentu. High yang makin rendah menunjukkan penjual makin tidak sabar dan bersedia melepas di harga lebih murah setiap kali harga naik.
Setiap pantulan dari support makin lemah. Saat pembeli di support akhirnya habis, harga bisa jatuh cepat, karena mereka yang membeli di support kini berada dalam posisi rugi dan ikut menjual.
Aturan trading
Entry
Entry umum adalah menjual atau keluar dari posisi beli setelah candle ditutup di bawah support. Trader yang lebih hati-hati menunggu retest bekas support dari bawah.
Stop loss
Stop biasanya dipasang di atas high terakhir di dalam segitiga atau di atas garis resistance menurun.
Target
Target terukur: tinggi segitiga di bagian terlebar dikurangkan dari titik breakdown. Contoh: high pertama Rp1.600, support Rp1.300 (tinggi Rp300), breakdown di Rp1.300, maka target sekitar Rp1.300 − Rp300 = Rp1.000.
Batal jika
Pola batal jika harga ditutup di atas garis resistance menurun, atau jika setelah breakdown harga kembali ditutup di atas support dan bertahan.
Sinyal konfirmasi
Volume: volume menyusut di dalam pola dan naik saat breakdown adalah urutan yang ideal.
Penutupan candle: gunakan penutupan di bawah support, bukan tembusan sesaat.
Tren lebih besar: pola lebih bermakna jika harga berada di bawah moving average jangka panjang yang menurun.
Kondisi pasar: breakdown saat IHSG juga melemah biasanya lebih meyakinkan.
Contoh di grafik saham
Misalkan sebuah saham beberapa kali memantul dari Rp1.300 selama dua bulan, tetapi pantulannya makin pendek: Rp1.600, Rp1.500, lalu Rp1.420. Suatu hari harga ditutup di Rp1.270 dengan volume di atas rata-rata. Pemegang saham bisa memakai penutupan itu sebagai sinyal keluar. Trader yang menghitung target memakai proyeksi sekitar Rp1.000, dengan stop referensi di atas Rp1.420. Contoh ini hipotetis.
Kesalahan umum
Menganggap support akan bertahan selamanya
Support yang diuji berkali-kali dengan pantulan makin lemah justru bisa makin rapuh.
Menjual sebelum breakdown
Segitiga turun bisa pecah ke atas. Tunggu penutupan di bawah support.
Menggambar garis sembarangan
Butuh minimal dua sentuhan di masing-masing garis agar pola sah.
Mengabaikan konteks
Segitiga turun di dalam tren naik yang kuat lebih sering gagal.
Menganggap target pasti
Target terukur hanya estimasi; support lama bisa menghentikan penurunan lebih awal.
Daftar periksa
- Support datar dengan minimal dua sentuhan
- Garis resistance menurun dengan minimal dua high
- Volume menyusut di dalam pola
- Candle ditutup di bawah support
- Volume meningkat saat breakdown
- Stop di atas high terakhir atau garis resistance
- Target terukur dan support berikutnya dicek
Pertanyaan umum
Sumber
Definisi mengikuti penjelasan umum buku teks dari sumber di atas. Pola grafik adalah alat bantu membaca grafik; tidak ada pola dengan tingkat keberhasilan tetap.